Senin, 21 Januari 2008

KOMBAS, KETUA DAN FUNGSINYA

Definisi Kombas
Kombas adalah singkatan dari Komunitas Basis, yakni sekelompok umat kristiani yang hidup berdekatan secara teritorial dan merupakan bagian dari paroki. Beberapa kombas yang tergabung dalam satu wadah teritorial disebut sebagai “wilayah” (biasanya dekat dengan pusat paroki) atau “stasi” (beberapa kombas yang jauh dari paroki bergabung menjadi satu untuk kepentingan pelayanan kepada seluruh jemaat).

Kombas dan Hakikatnya
Keberadaan kombas amat menentukan kehidupan paroki. Paroki merupakan paguyuban antar-kombas yang dipersatukan oleh pastor paroki sebagai gembala di bawah otoritas uskup setempat. Keberadaan kombas yang berbeda latar belakang kehidupan di suatu paroki memberi panorama dan pelangi kehidupan jemaat yang saling memperkaya.
Kombas, berfungsi sebagai basis pembinaan iman dan hidup menjemaat. Di sanalah umat kristiani menghayati imannya setiap hari dalam aneka kegiatan seperti misa dan sembahyang lingkungan, latihan-latihan, kegiatan-kegiatan anak-anak PPA, sekolah minggu, paguyuban mudika, persekutuan ibu-ibu dan bapak-bapak, APP, pendalaman Kitab Suci, Doa Rosario, ziarah dan masih banyak kegiatan lain.
Lewat kombas, pelayanan pastoral bagi jemaat basis juga dikembangkan. Pelayanan macam itu menjawab kebutuhan umat sehari-hari baik menyangkut hal-hal menyenangkan maupun saat-saat umat sedang mengalami dukacita. Tidak heran apabila suasana kombas menjadi kelihatan lebih akrab, lebih dekat satu sama lain. Semua orang di kombas tersebut diharapkan ikut aktif mengambil bagian (walau tidak dengan cara yang seragam) dalam aneka macam kebersamaan jemaat. Untuk melancarkan tugas pelayanan tersebut, kombas membentuk team kerja (pengurus kombas) dengan pembagian tugas dan tanggung jawab di bahwa koordinasi seorang koordinator (ketua) kombas).
Kombas-kombas ini tidak bersifat tertutup tetapi berciri terbuka. Artinya, pertama, keberadaan lingkungan adalah bagian dari seluruh paroki. Kalau salah satu kombas mempunyai “kemampuan dan keunggulan” dalam berbagai hal, itu semua juga merupakan kemampuan dan keunggulan seluruh paroki. Sebaliknya, keprihatinan kombas tertentu merupakan keprihatinan seluruh paroki. Oleh sebab itu, di satu sisi kombas-kombas itu bebas mengembangkan kehidupan warganya sendiri; tetapi di sisi lain dia ada ikatan keparokian dengan kombas-kombas lain. Kedua, ciri terbuka juga tercermin dalam kepekaan menanggapi kehidupan bermasyarakat. Kepedulian terhadap sesama warga masyarakat adalah salah satu ciri keterbukaan yang dimaksudkan di sini.

Luwes dan Akrab

“Luwes dan akrab” adalah dua kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hidup menjemaat di tiap kombas. “Luwes” menggambarkan fleksibilitas penataan hidup di tiap kombas, seperti pembentukan team-team kerja/seksi-seksi. Berapa jumlah team kerja yang dibutuhkan tiap kombas, tergantung kebutuhan kombas itu sendiri. Namun ada tiga bagian pokok yang mesti diperhatikan tiap kombas: satu, bagian pembinaan persekutuan dalam jemaat yang bertugas untuk menyemarakkan komunikasi dan kerja sama dalam jemaat, dua, bagian yang mengurusi soal pewartaan, pendalaman Sabda Allah, dan peribadatan; tiga, bagian yang pelayanan sosial untuk kepentingan orang miskin atau tersingkirkan di kombas yang bersangkutan.
“Luwes” bisa dikaitkan juga dengan program kerja. Program kerja di tiap kombas biasanya bersifat rutin. Program kerja lain yang mengacu pada gerakan untuk mewujudkan visi dan misi paroki atau keuskupan sebaiknya disesuaikan dengan program kerja Dewan Paroki Pleno yang di dalamnya ketua kombas merupakan bagiannya. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan adalah masalah penyusunan dan sinkronisasi antara jadwal kegiatan lingkungan dengan kegiatan paroki.
Berkaitan dengan pelayanan pastoral yang murah hati, “luwes” di sini dilawankan dengan “prosedural-legalistik”. Pelayanan jemaat lingkungan sudah selayaknya berciri murah hati dan sederhana artinya tidak mementingkan prosedur-prosedur birokrasi yang berbelit-belit (walaupun tetap ada tata caranya). Yang penting diperhatikan di sini adalah model komunikasi dalam jemaat yang selayaknya menyemangati hidup jemaat dan bukan malah membuat mereka sakit hati dan patah semangat.
Istilah akrab menunjuk aspek hubungan antarumat di kombas (termasuk pengurusnya). Suasana saling membantu dan memperhatikan merupakan tanda keakraban tersebut. Dalam suasana semacam itu, jenjang usia tidak merupakan halangan untuk saing memberi dukungan dan memberi semangat. Selain itu keakraban ditandai dengan adanya kemampuan untuk mengembangkan musyawarah, rembug bersama bila menerima tugas/tanggung jawab dan bila ingin memecahkan soal bersama-sama tanpa harus saling menyalahkan dan memaksankan kehendak, mengingat tujuannya hanya satu dan sama: demi pengembangan iman jemaat. Dalam hal ini, pengurus kombas terutama ketua kombas memegang peranan penting sebagai penjamin keakraban.

Fungsi Ketua Kombas

Secara singkat dapat dikatakan bahwa fungsi ketua kombas pertama-tama adalah “pamong” (pemelihara) jemaat di lingkungannya. Tugas pokok ketua kombas adalah mempersatukan jemaat di kombas yang bersangkutan dan mengkoordinasikan aktivitas pelayanan pastoral di kombasnya. Dengan demikian, kombas itu menjadi Tubuh Kristus yang hidup dan dinamis. Untuk menjalankan tugas dan fungsi semacam itu, seorang ketua kombas dituntut memiliki kemauan melayani jemaat secara tulus ikhlas (sering dituntut pengorbanan, paling tidak korban waktu dan tenaga).
Tugas berikutnya bisa disebut dengan istilah komunikator, yakni tugas penghubung, menjadi perekat antarumat di kombas dan antara umat kombas dengan seluruh paroki. Tugas itu dijalankan dengan mengikuti rapat-rapat koordinasi dengan seluruh paroki lewat DP, dan dengan berkomunikasi terus-menerus dengan pastor parokinya demi kepentingan umat di kombasnya. Kemajuan umat di parki akan sangat ditentukan oleh kemampuan tokoh-tokoh umat dalam menemukan cara berkomunikasi yang baik dan efektif.
Tugas lain yang menyangkut masalah inti hidup kristiani ialah saksi iman. Di antara sekian banyak tugas seorang ketua kombas hal inilah yang paling menantang. Menjadi saksi iman bukan pertama-tama ahli dalam hal ilmu kekristenan (syukur kalau begitu). Hal yang pokok dalam menjadi saksi iman ialah mencintai Kristus dan Gereja-Nya. Kekuatan dan “roh” seorang ketua kombas tidak terletak pada kepandaian intelektualnya, melainkan pada imannya akan Kristus. Akan tetapi, untuk menjadi seorang ketua kombas, tidak usah menunggu sampai imannya sudah mendalam (syukur kalau begitu!) sebab beriman itu merupakan suatu proses yang akan berjalan seumur hidup dengan bantuan Roh Kudus berkat rahmat baptis yang telah diterima. Maka syarat penting untuk menjadi saksi iman ialah kesediaan dan kerelaannya.

Menyusun dan Menjalankan Program Kerja

Setiap organisasi sepantasnya menyusun (memikirkan, merencanakan, dan memutuskan hal-hal yang menyangkut pelayanan pastoral) suatu program kerja (entah jangka panjang maupun jangka pendek). Program kerja ini berdasarkan kebutuhan dari umat kombas sendiri. Demi kelancaran pelaksanaan program pelayanan kepada seluruh jemaat, perlulah memperhatikan hal-hal berikut:
· Sebelum disusun program kerja secara rinci, perlu dibuat Pedoman Pelaksanaan Komunitas Basis (PPKB). Pedoman ini berisi hal-hal praktis dan konkret (semacam “aturan main”) bagi mereka yang terlibat dalam pelayanan pastoral. Pedoman tersebut selayaknya mencerminkan semangat dasar umat kristiani sebagai murid-murid Kristus yang kebetulan secara secara teritorial tergabung dalam kombas setempat. Pedoman tersebut juga memuat rincian tugas-tugas masing-masing seksi. Pedoman ini tidak baku, dapat berubah sesuai dengan perkembangan jemaat setempat.
· Merumuskan visi dan misi. Di zaman modern sekarang ini, lembaga-lembaga yang menyangkut pelayanan kepada orang banyak dan melibatkan banyak orang dituntut untuk lebih bertanggung jawab dalam menjalankan fungsi pelayanannya. Pelayanan yang bertanggung jawab berarti pelayanan yang terarah, dan dengan demikian membawa hasil yang paling baik sesuai yang diharapkan. Untuk kepentingan itulah perlu dirumuskan sebuah visi dan misi komunitas basis. Visi yang dimaksud di sini ialah rumusan cita-cita yang ingin dikembangkan di paroki yang bersangkutan. “Visi” ini merupakan pemersatu gerak pelayanan pastoral di kombas yang bersangkutan, sekaligus penentu arah yang ingin dituju, berikut dengan prioritas-prioritas yang perlu diperhatikan agar mengarah ke cita-cita itu. Untuk dapat merumuskan visi yang dimaksud, kita harus menjawab: “siapakah kita (jemaat kombas) ini? Kombas ini mau dibawa ke mana?” Tidak mudah menjawab pertanyaan itu, tetapi kalau berhasil merumuskan jawabnya, otomtasi visi akan terumuskan. Untuk menjawab tersebut, ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan: a. Latar belakang sosial-kemasyarakatan dan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat setempat; b. Eklesiologi semacam apa yang akan dikembangkan di paroki yang bersangkutan; dan c. Nilai injil mana yang ingin dihayati oleh jemaat setempat. Dari 3 butir pertimbangn itu, jelas bahwa visi kombas haruslah dirumuskan berdasarkan: Pertama, kenyataan hidup jemaat di tengah masyarakat setempat. Kedua, eklesiologi yang hidup dimaksud di atas suasana kejemaatan (hidup menggereja) yang ingin dikembangkan di kombas yang bersangkutan. Untuk hal ini, Kombas selayaknya mengacu pada Konsili Vatikan II dan Arah Dasar atau Pedoman Dasar Keuskupan dan juga Paroki. Ketiga, mengacu pada nilai injili, maksudnya nilai-nilai yang ditimba dari Kitab Suci.
Setelah dirumuskan visinya, kini barulah dirumuskan misinya. Misi adalah uraian mengenai “apa tugas dan panggilan jemaat (kombas)” di tengah masyarakat sekarang ini. Rumusan tentang misi ini berguna untuk menentukan prioritas pelayanan pastoral di kombas yang bersangkutan.
· Program kerja visioner, rutin dan darurat. Setelah ada rumusan visi dan misi, barulah disusun sebuah program kerja secara periodik (biasanya tahunan). Pada pokoknya, program kerja berisi serangkaian pekerjaan pastoral yang akan dikerjakan selama kurun waktu tertentu. Yang penting dicatat di sini ialah: membedakan antara program kerja yang “visioner” (program kerja yang direncanakan untuk mewujudkan visi kombas) dan program kerja “rutin” (program kerja yang visi berganti tetapi selalu rutin ada, misalnya: paskahan, natalah, komuni I, dll) dan program kerja “darurat” (pekerjaan yang sifatnya mendadak dan tak terduga, misalnya berhubungan dengan bencana alam).
· Anggaran Pendapatan dan Belanja. Hal ini sering disingkat dengan RAPB (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja). Pembuatan RAPB merupakan salah satu usaha mengelola uang yang dikumpulkan dari jemaat(entah banyak atau sedikit, bahkan defisit) dan dipergunakan untuk kepentingan jemaat secara bertanggung jawab. Zaman sekarang menuntut tranparansi pengelolaan keuangan ini sehingga jemaat pun tahu seberapa kekuatan/kelemahan mereka dalam hal ini. Penyusunan RAPB sudah selayaknya mengacu pada program kerja yang telah disusun, sebab fungsi RAPB ialah mendukung terlaksananya program kerja dari sisi finansial. Tersusunnya RAPB juga memperlihatkan visi dan misi paroki berkut dengan prioritas karya pelayanan yang sudah ditentukan.
· Menyusun Job Description Untuk Setiap Seksi. Tugas Pengurus kombas ialah menyusun pembagian tugas bagi setiap seksi/bagian yang ada di Kombas yang disepakati dalam suatu sidang pleno. Mengenai uraian tugas masing-masing seksi/bagian kombas, dapat diberikan beberapa catatan sebagai berikut: pertama, keragaman tugas konkret di tengah jemaat amat tergantung dari keadaan dan kebutuhan jemaat setempat sejauh ditanggapi dalam rumusan visi dan misi kombas. Kedua, rincian tugas tiap-tiap seksi kombas menyangkut dua kelompok. Kelompok pertama menyangkut tugas-tugas rutin dan kelompok kedua ialah tugas-tugas yang visioner (sesuai dengan tuntutan visi-misi). Tidak tertutup kemungkinan bahwa tugas yang sama dijalankan oleh dua atau lebih seksi/bagian dari kombas. Kalau itu terjadi maka sebaiknya tugas yang sama itu dijalankan sebagai kerja sama antar seksi/bagian dalam kombas.

Minggu, 20 Januari 2008

BERJALAN BERSAMA MENUJU GEREJA MANDIRI YANG MISIONER

Pengantar

Sebuah adagium berbunyi begini, “masa lalu adalah kenangan, masa kini adalah karunia dan masa depan adalah impian”. Mungkin tiada seorangpun yang dapat menyangkal kebenaran adagium tersebut. Ketiga masa tersebut, mulai masa lalu, masa kini hingga masa depan, merupakan proses perjalanan hidup seorang manusia. Masa lalu, menjadi pijakan untuk menatap masa depan sambil mensyukuri karunia masa kini. Kiranya kesadaran inilah yang menjadi dasar bagi seluruh komponen yang ada di Keuskupan Jayapura dengan mengadakan Rapat Koordinasi guna menetapkan program pastoral tahun 2008, yang berlangsung dari tanggal 12-14 Desember 2007 di Balai Pelatihan Sosial Tanah Hitam Abepura. Program pastoral tahun 2008 (masa depan), dirancang dengan melihat berbagai aspek dan peristiwa yang terjadi pada tahun 2006-2007 (masa lalu), hingga situasi kini dapat dihayati dan dinikmati dengan sepenuh hati.

Dinamika Rakor

Hari pertama, 12 Desember dimulai dengan ibadat pembukaan oleh Vikjen, P. Neles Tebay Pr, dan kemudian dilanjutkan dengan pengarahan tim sehubungan dengan maksud/tujuan dan cara kerja dalam merancang program bersama. Rancangan program bersama, mesti berpijak dari program masing-masing paroki dan kemudian berdasarkan program paroki itu, disusunlah program tiap-tiap dekenat sambil mensinkronkannya dengan program-program yang telah dibuat oleh setiap komisi keuskupan. Karena itu setelah pengarahan tersebut, masing-masing dekenat berkumpul untuk membuat program dekenat dengan mempertemukan program setiap komisi.
Setelah bekerja dengan ekstra keras hingga ada kelompok yang membahas programnya sampai larut malam, hari kedua rakor menjadi ajang untuk melaporkan rancangan program-program setiap dekenat. Seluruh program yang disusun oleh setiap dekenat dengan memasukkan bagian-bagian program yang ditawarkan dari setiap komisi yang ada, ditanggapi secara kritis oleh kuria, tim 5 dan setiap peserta yang hadir. Ada pertanyaan-pertanyaan yang tajam, ungkapan kekecewaan, dan usulan yang bijak, semuanya berangkat dari semangat “melangkah bersama menuju Gereja Mandiri yang Misioner”.
Pada hari yang ketiga, wajah-wajah peserta rakor terlihat sudah mulai letih. Ada yang kecewa karena program dekenatnya belum beres, beberapa peserta tersenyum ceria sebab akan membawa pulang program secara jelas dan pasti, merupakan gambaran yang dirasakan dari situasi rakor. Setelah menyempurnakan program-program yang dibuat berdasarkan masukan-masukan kuria, tim 5, dan peserta rakor, akhirnya kegiatan tersebut ditutup dengan misa oleh Uskup Leo Laba Ladjar OFM.

Program Per Dekenat Tahun 2008

Dekenat Pegunungan Bintang

Selama rakor, Dekenat Pegunungan Bintang “menunjukkan gigi” sebagai dekenat yang memiliki kemapanan dari segi keuangan. Dari seluruh anggaran program tahun 2008 yang berjumlah Rp 121.000.000,-, Dekenat Pegunungan Bintang hanya meminta subsidi dari keuskupan sebesar Rp 10.000.000,-. Bukan hanya soal keuangan saja yang mencolok dari Dekenat Pegunungan Bintang ini, semua tawaran program dari setiap komisi keuskupan diterima dan ditampung dengan penuh sukacita. Tidaklah heran bila pada minggu ketiga bulan Juni 2008 nanti, seluruh komisi akan berada di Dekenat Pegunungan Bintang selama 6 hari dengan agenda utamanya yakni sosialisasi program. Total anggaran kegiatan di minggu ketiga bulan Juni ini diperkirakan menghabiskan dana Rp 60.000.000,-.
Perhatian terhadap Orang Muda Katolik (OMK) terangkum pula dalam program Dekenat Pegunungan Bintang, sesuai dengan tawaran program komisi kepemudaan. Kegiatan pengembangan seni demi menumbukan kecintaan para OMK terhadap seni, dijalankan pada masing-masing paroki setiap akhir pekannya. Juga tawaran kegiatan hari pemuda sedunia yang dilangsungkan di Sydney pada bulan Juli nanti, direspon secara positif oleh Dekenat dengan langsung menunjuk dua utusannya, yakni seorang pastor muda, Hilarius Pekey Pr dengan utusan OMK dekenat yang belum disebutkan namanya.
Selain kegiatan yang dilakukan secara bersama seperti di atas, dekenat ini juga memiliki kegiatan bersama sebagai dekenat tetapi pelaksanannya dilakukan di masing-masing paroki. Pada bulan Januari – Februari, ada kegiatan sosialisasi, pemetaan, pendataan dan pembentukan kombas, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan kepemimpinan ibadat sambil terus memantau dan mengevalusi terbentuknya kombas-kombas serta seluruh kegiatannya. Tak lupa pula unsur kesadaran akan kesatuan dengan Gereja Universal, diperlihatkan oleh dekenat ini dengan mengagendakan kunjungan Uskup Jayapura ke Paroki Oklip pada bulan April, Paroki Oksibil dan Iwur pada bulan Mei, serta ke Paroki Abmisibil pada bulan November. Pada umumnya, kunjungan Uskup tersebut diisi dengan pemberian sakramen Krisma.

Dekenat Jayawijaya

Meski jarak dari tiap paroki cukup jauh dan sulitnya untuk mendapatkan bahan bakar minyak, namun tim pastoral Dekenat Jayawijaya ini tetap memiliki agenda pertemuan yang rutin dan terjadwal secara baik. Kesetiaan untuk berkumpul antar sesama tim pastoral setiap bulannya, menjadi kekuatan tersendiri dari Dekenat Jayawijaya ini. Tidaklah heran bila dalam rakor, Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, memuji dekenat ini sebagai dekenat yang memiliki team work yang kuat dan kompak.
Kegiatan yang menonjol sepanjang tahun 2008 dari Dekenat ini adalah pelatihan penggerak Komunitas Basis Gereja (KBG) dan OMK yang dilangsungkan pada bulan April, Juni dan September. Tujuan utama dari pelatihan ini pertama-tama adalah agar para penggerak memahami maksud utama dari KBG dan OMK. Berpijak dari pemahaman yang didapat dari pelatihan tersebut, diharapkan agar KBG dan OMK dapat terbentuk di Dekenat Jayawijaya. Bersamaan dengan kegiatan ini direncanakan pula pelatihan memimpin ibadat bagi para koordinator kombas pada bulan Maret dan Mei.
Di samping itu, Dekenat Jayawijaya juga merancang kegiatan-kegiatan yang melibatkan kelompok-kelompok kategorial. Ada temu misdinar yang direncanakan minggu keempat di bulan Juni dengan tujuan menjalin keakraban dan kebersamaan sesama misdinar se-dekenat. Juga ada pembinaan para pembina BIAK yang berlangsung pada bulan Maret dan Agustus sehingga mereka semakin memiliki kecakapan dalam mendampingi BIAK; meningkatkan iman dan kesejahteraan kelompok petani melalui pendampingan pada kelompok-kelompok tani yang berlangsung bulan Mei, Juni dan Oktober serta pembinaan kepala kampung Katolik guna meningkatkan iman dan juga wawasan mereka berkaitan dengan pengelolaan keuangan.
Peristiwa besar yang akan terjadi di Dekenat Jayawijaya adalah Yubileum 50 Tahun Gereja Katolik di Lembah Baliem. Karena merupakan pesta rakyat Baliem terutama umat Katolik, maka kegiatan ini melibatkan berbagai unsur (pemerintah, gereja, adat dan masyarakat secara luas) dengan anggaran biaya sekitar 3 milyar. Berbagai isi kegiatan yang dirancang dalam merayakan yubileum ini antara lain berupa refleksi, seminar, ekaristi dan pertandingan atau perlombaan. Semuanya bertujuan agar semua umat Katolik dapat mengenang kembali, mengevaluasi dan mensyukuri perjalanan iman Katolik di Lembah Balim. Dengan begitu iman umat Katolik di Lembah Baliem semakin diperteguh dan dihayati dalam tutur kata dan tindak-tanduk hidup hariannya.

Dekenat Keerom

Dekenat Keerom dikenal dengan kekacauannya. Maksudnya situasi keamanan Keerom di penghujung akhir tahun 2007 dipenuhi dengan gejolak “hangat” yang menghiasi gerak pastoral dan hidup menggerejanya. Di tengah situasi yang penuh dengan ketegangan itu, Dekenat Keerom patut diacungi jempol karena sukses menyelengarakan Musyawarah Pastoralnya (MUSPAS) yang berlangsung dari tanggal 11 – 13 November 2007. Mengambil tema “Dengan Musyawarah Pastoral Kita Tingkatkan Peran Komunitas Basis Gerejawi dan Orang Muda Katolik dalam Mewujudkan Gereja Mandiri yang Misioner”, Dekenat Keerom memberikan perhatian besar pada 2 bidang kerja yakni KOMBAS dan OMK. Hasil dari musyawarah pastoral ini, menjadi titik pijak Dekenat dalam merancang program pastoralnya di tahun 2008.
Sebagaimana prioritas kegiatan keuskupan yakni OMK dan KOMBAS yang juga menjadi gerakan bersama, maka program pertama dan utama dari Dekenat Keerom adalah membentuk OMK Dekenat dan KOMBAS serta pelatihan-pelatihan terhadap para kordinatornya. Pelatihan ini dilaksanakan dengan dua tahap, yang berlangsung pertama terjadi pada bulan Januari dan kedua pada bulan Mei 2008. Agar gerakan bersama ini menjadi bagian integral dari seluruh lapisan masyarakat, baik adat maupun pemerintah, maka Dekenat Keerom merencanakan kegiatan yang diberi nama “LOKAKARYA BUDAYA”. Lokakarya ini berlangsung pada tanggal 18-20 Februari dengan anggaran belanjanya sebesar Rp 60.000.000,-. Tujuannya agar semua komponen yang ada di Dekenat Keerom, khususnya para tetua adat, dilibatkan secara penuh akan perubahan cara hidup menggereja yang baru ini.
Kehadiran Gereja yang tidak terlepas dari situasi dan persoalan dunia di sekitarnya, sesuai dengan Gereja Mandiri yang Misioner, membuat Dekenat Keerom memfokuskan perhatian pada dua permasalahan sosial yang aktual di tanah Papua ini, yaitu HIV/AIDS dan Papua Tanah Damai. Penyuluhan bahaya HIV/AIDS, ditujukan secara khusus kepada OMK dengan nama kegiatan camping rohani, yang diadakan pada tanggal 3-5 Oktober. Kegiatan ini melibatkan seluruh OMK Dekenat Keerom dengan anggaran dana sebesar Rp 40.000.000,-. Sedangkan kegiatan sosialisasi Papua Tanah Damai, disponsori sepenuhnya oleh SKP Jayapura.

Dekenat Jayapura

Kemandirian umat di masing-masing paroki yang ada di Dekenat Jayapura tidaklah perlu diragukan lagi. Mungkin karena kemandirian ini pulalah, yang kiranya mengakibatkan Dekenat Jayapura ini tidak dapat menyelesaikan program dekenatnya pada rakor. Tidaklah heran bila peserta rakor memberikan “sambutan hangat” atas “prestasi” dekenat ini sambil tersenyum cengar-cengir.
Setelah bersusah payah untuk dapat berkumpul dan merancang program Dekenat Jayapura, akhirnya program yang dinantikan itupun tiba di bagian sekretariat keuskupan Jayapura pada awal Januari 2008. Program-program yang tersusun dalam Dekenat Jayapura, mencerminkan situasi dan kebutuhan umat yang ada. Gerak langkah bersama sekeuskupan dalam memberikan perhatian pada OMK dan KOMBAS, juga tercermin dalam program Dekenat Jayapura. Kegiatan-kegiatan sehubungan dengan orientasi dasar OMK dan KOMBAS baik yang diselenggarakan oleh pihak keuskupan maupun yang berasal dari dekenat sendiri, diprogramkan secara berkesinambungan sepanjang tahun 2008. Diawali dengan kegiatan seminar orientasi dasar OMK dan KOMBAS untuk melakukan koordinasi, perencanaan, monitoring, dan evaluasi kegiatan di masing-masing dan selanjutnya pelatihan-pelatihan para penggerak OMK dan KOMBAS.
Kegiatan menarik dan unik yang muncul dari Dekenat Jayapura sehubungan dengan gerak langkah bersama sebagai Dekenat adalah penyelenggaraan Novena Roh Kudus bersama di setiap paroki dalam dekenat pada minggu kedua dan ketiga di bulan Mei 2008. Gerak bersama ini semakin diperkuat dengan komitmen untuk saling bertukar mimbar sesama pemimpin doa novena atau sesama pastor paroki. Bukan hanya saling bertukar mimbar, tetapi dalam program yang ada direncanakan tim pastoral dekenat yang terdiri dari para pastor paroki merencanakan kunjungan ke paroki-paroki yang ada di luar kota, seperti Taja dan Sarmi. Tujuannya tidak lain adalah untuk melihat secara langsung keadaan umat paroki di luar kota sekaligus memberikan semangat bagi umat dalam menghayati hidup menggereja terutama dalam melaksanakan gerak bersama sesuai amanat sinode.

Penutup

Usaha melihat masa lalu untuk menatap masa depan melalui rancangan program Pastoral 2008 demi mencapai Gereja Mandiri yang Misioner dengan satu semangat “berjalan bersama” telah rampung. Kini saatnya untuk mengimplementasikan rancangan yang ada. Kadangkala bagian ini menjadi sulit untuk dilaksanakan karena membutuhkan pengorbanan waktu, perhatian dan diri sendiri. Teringatlah daku akan seuntai kalimat bijak dari Helen Rice, “Memberi sering diartikan dari sudut pandang barang yang kita berikan, tetapi pemberian kita yang terbesar adalah waktu, kebaikan hati, hiburan dan diri kita bagi mereka yang membutuhkan kita”. Bila berangkat dari kalimat bijak Helen Rice ini, dan seluruh umat yang ada di Keuskupan Jayapura menghayatinya sehingga rela memberikan waktu, kebaikan hati, hiburan dan diri kita demi Gereja Mandiri yang Misioner, maka Kerajaan Allah yang menjadi impian setiap umat manusia di Keuskupan Jayapura ini, akan terwujud nyata kini dan di sini. Inilah saatnya untuk menikmati masa kini, yang adalah karunia dengan berlomba-lomba melaksanakan seluruh program yang telah direncanakan. Wassalam.

Sejarah Rosario


Sejarah Rosario

Kata Rosario berasal dari bahasa latin , rosarium (dari akar kata Latin, rosa = bunga mawar), yang berarti karangan bunga mawar.

Penjelasan mengenai Rosario diajarkan oleh Santo Louis de Montfort. Beliau menjelaskan bahwa mawar itu melambangkan Yesus dan Maria dalam kehidupan, kematian dan keabadian. Daunnya adalah misteri kegembiraan, durinya adalah misteri sengsara, bunganya adalah misteri kemuliaan, kuncupnya adalah masa kanak-kanak Yesus dan Maria, kelopaknya yang terbuka adalah lambang penderitaan mereka. Mawar yang merekah melambangkan kemenangan serta kemuliaan Yesus dan Maria.

Ada 2 tradisi mengenai asal usul Doa Rosario ini. Versi pertama adalah pada awal abad 12, Bunda Maria menampakkan dirinya dan memberikan rosario pada Santo Dominikus pendiri Ordo Dominikan dan meminta Dominiskus untuk mewartakan rosario ini. Pada masa itu Santo Dominikus sedang berjuang melawan kaum bidaah/ajaran sesat Albigensian. Bidaah/ajaran sesat Albigensian memahami penyelamatan sebagai pembebasan jiwa dari tubuh, menganggap hal-hal jasmani sebagai jahat dan karena itu menolak penjelmaan Kristus, sakramen-sakramen dan kebangkitan badan. Bunda Maria berjanji bahwa karya kerasulannya akan berhasil jika Dominikus dengan setia mendoakan dan mewartakan Doa Rosario ini. Dalam sejarah akhirnya, Dominikus dan pengikutnya dari abad 12 sampai abad 14 berhasil ' mematikan' bidaah Albigensian dengan jalan menggalakkan Doa Rosario dan merenungkan misteri-misteri penyelamatan. Bersama-sama dengan Ordo Kartusian ( yang membagi doa salam maria dalam 'sepuluh sepuluhan' dan menyisipkan doa Bapa Kami di antara tiap 'perpuluhan"-nya) menerbitkan buku penuntun, berkotbah tentang peranan doa rosario dan menggalakkan Persekutuan Rosario. Karena itulah dunia menyakini bahwa Doa Rosario ini berasal dari Santo Dominikus meskipun pada awal abad 5 pada masa Santo Benedictus, orang sudah mengenal untaian manik-manik untuk menghitung doa vocal yang didaraskan berulang-ulang.Versi kedua, setelah mapan secara historis kemudian mulai mendapat dukungan dari lingkungan kepausan dan dimasukkan dalam bulla kepausan ( surat resmi kepausan menyangkut ajaran Gereja yang harus diimani). Hal ini karena Gereja melihat Doa Rosario menjadi doa perang suci baik ketika Santo Dominikus berperang melawan kaum Albigensian dan kemenangan Armada Laut Kristen atas Turki di Lepanto Timur Tengah tanggal 7 Oktober 1571. Perlu diketahui Armada Laut Turki dibawah pimpinan Halifasha adalah armada laut yang kuat dan sudah menghancurkan semua pelabuhan Katolik di Eropa - Armada Laut Kristen adalah gabungan dari Armada Laut Eropa dibawah pimpinan Don Yuan dari Austria yang tidak memiliki kekuatan yang berarti. Don Yuan dari Austria terkenal mempunyai devosi yang kuat pada Bunda Maria. Pertempuran ini seperti pertempuran Daud dan Goliath. Armada Laut Kristen ketika maju berperang setiap anggotanya memegang rosario di tangan kanan dan senjata di tangan kiri. Sementara itu, Paus Pius V menyerukan kepada setiap orang Katolik di Eropa bersatu berdoa Rosario. Pada saat perang berkobar Persekutuan Rosario Roma sedang mengadakan pertemuan di gereja Minerva, markas besar Ordo Dominikas. Kala itu mereka mendaraskan rosario dengan intensi khusus yakni agar Gereja menang atas musuh-musuhnya. Sehingga Paus Clemens XI ( tahun 1667- 1669) kemudian menentukan hari Minggu pertama bulan Oktober sebagai Pesta Rosario Santa Perawan Maria untuk memperingati kemenangan di Lepanto.Isi dokumen dalam bulla kepausan memberikan indulgensi (pengampunan) bagi mereka yang berdoa rosario demi ujud yang tercantum dalam bulla tersebut. Dukungan kepausan ini memang tidak untuk mengukuhkan kebenaran mistik Santo Dominikus sebagai fakta sejarah tetapi lebih berupa dukungan untuk mengembangkan devosi kepada Bunda Maria. Tradisi ini memang pernah populer tapi secara historis kurang dikenal luas. Versi kedua ini berpusat pada devosi kepada Yesus dan Maria yang muncul pada abad 12. Pada saat itu ada kerinduan dari Gereja mengikutsertakan rahib dan umat yang tidak mampu membaca menawarkan doa alternatif sebagai ganti mendaraskan 150 mazmur dalam ibadat harian. Karena itu sebagai pengganti mazmur mereka mendaraskan 150 doa bapa kami dengan mengunakan manik manik. Berkembangya devosi kepada Yesus dan Maria maka manik manik itu dipakai untuk mendoakan doa salam maria. Usaha ini sudah dirintis oleh Santo Petrus Damanianus ( sekitar 1072).Doa salam maria lahir dari proses yang panjang dan baru sempurna terbentuk pada abad ke 15. Doa ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah salam malaikat Gabriel kepada Maria, sekitar tahun 1260-an digabungkan dengan Pujian Elizabeth kepada Maria. Kata 'YESUS' sendiri baru ditambahkan pada abad ke 13. Bagian kedua " Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini,sekarang dan waktu kami mati. Amin." Bagian ini ditambahkan pada abad ke 15, sebagai hal yang logis berkenaan dengan ajaran MARIA SEBAGAI BUNDA ALLAH (THEOTOKOS) pada konsili Efesus tahun 431.Sumber dari buku Rosario - Sejarah dan Misteri Kuasanya dan buku MisteriCahaya Membarui Rosario di Milenium IIIPengarang : Willem Daia, PrPenerbit ; Yayasan Pustaka Nusatama